Ibu, (Pusat) Energi Kreatif

Catatan tentang Pameran Sri Astari Rasjid Yang Terhormat Ibu

Garba, yang diterjemahkan sebagai rahim, oleh Sri Astari Rasjid[1] ditafsirkan sebagai (pusat) energi kreatif. Karena, pada garba, manusia diproses dan diciptakan. Pada pamerannya kali ini, ia menggambarkan garba dalam berbagai bentuk, salah satunya berbentuk gunung.

Gunung dalam karya Astari menampilkan sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Namun, tafsir Astari tentang gunung berbeda dengan dari tafsir hegemonik dalam kebudayaan Jawa mengenai gunung. Gunung biasanya dioposisikan, dilawankan dengan sifat air yang mengalir dan yang bersumber dari gunung. Jika sifat air selalu bergerak, ngeli, maka gunung selalu tampak diam, anteng. Tafsir ini dapat dikembalikan pada konsep kehalusan priyayi, pun pada kehalusan Tuhan sebagai kekuatan spiritual yang diam, anteng. Sifat anteng ini dipertentangkan juga dengan sikap cakil yang terus bergerak, pethakilan.

21Femini

Pandangan hegemonik yang demikian tentu melihat gunung dalam keadaannya yang normal. Sebagai sebuah tatanan, sebuah kepastian. Astari melihat gunung dari seginya yang abnormal. Abnormal ini dilihat sebagai energi brahala, yaitu ketika sang raja yang anteng berubah murka. Dari tafsir Astari ini, kita dapat melihat sisi lain dari gunung, yaitu sebagai sebuah kekuatan yang maha dahsyat, yang terus bergerak dan gelisah hingga menjadi sebuah energi kreatif.

Kekuatan maha dahsyat tersebut muncul ketika kehidupan tidak dalam keadaan normal, melainkan dalam keadaan krisis. Mungkin inilah yang menjadi dasar dari ilmu kepepet, kemampuan luar biasa dari kebudayaan Jawa yang muncul justru pada saat darurat. Raja yang diam, anteng, di singgasananya, tiba-tiba triwikrama menjadi brahala yang mengatasi dan mengalahkan semua raksasa. Ia berada atau bersembunyi di balik pendapa yang kelihatan anteng. Bila pendapa merupakan wilayah lelaki, mungkinkah ia justru berada di wilayah perempuan, wingking?

Gunung dan Pendopo - Sri Astari Rasjid

Wicaksono Adi, yang menguratori karya-karya Astari pada pameran ini, menjelaskan tentang kecenderungan pelukis membagi bidang menjadi tiga bagian. Dalam pandangan saya, terutama dari karya-karya awalnya, dua sisi yang ada di samping cenderung bercitra statis, diam, sedangkan yang di tengah cenderung dinamik, juga bervariasi. Pembagian bidang ini menurut saya bukanlah representasi, melainkan sepenuhnya sebuah kontruksi. Sebagai konstruksi ia mandiri, tidak mengacu kepada sesuatu di luar dirinya. Tidak ada yang dilawan, jikapun ada, yang dilawan adalah dirinya sendiri.

Pada lain pihak, Astari bicara bahwa ia menempatkan ibu dalam pengertian yang luas: dari pengertian lugasnya sebagai ibu, kebudayaan asali, tanah air, dan sebagainya. Ibu juga dipahami sebagai gua garba, gua rahim, (pusat) energi kreatif. Bila demikian halnya, ibu mestinya merupakan sesuatu yang dinamik, yang ada di tengah. Tapi, citra-citra manusia dan budaya Jawa justru ibu ditempatkan pada dua sisinya.

Pameran Yang Terhormat Ibu menarik untuk dibahas lebih lanjut. Yang jelas, Astari mengaku masa kecil, masa pertumbuhannya, banyak dihabiskan di luar negeri dan terus bergerak. Bahasa ‘ibu’-nya adalah bahasa Jawa dan bahasa Inggris. Baru belakangan ia belajar bahasa Indonesia.

Catatan kaki

[1] Seorang seniman yang lahir pada 26 Maret 1953. Pada tanggal 27 Ferbruari – 4 Maret 2016, ia mengadakan pameran bertajuk Yang Terhormat Ibu di PKKH UGM. Sri Astari Rasjid telah menampilkan karya-karyanya dalam berbagai pameran penting di banyak negara, di antaranya di Jakarta, Hongkong, Washington, New York, Moskow, Madrid, London, Paris, Beijing, Venezia Biennale, dan lain-lain. Ia juga telah memenangi beberapa kompetisi seni rupa, di antaranya Nokia Arts Award, Phillip Morris Arts Award, dan Winsor & Newton Award. Pada tahun 2016 ini, Astari telah dilantik sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Bulgaria merangkap Republik Albania dan Republik Makedonia, berkedudukan di Sofia. Sri Astari Rasjid adalah Duta Besar perempuan pertama yang berlatar belakang seniman profesional

 

Leave a Reply