Selamat Makan Malam Ay Tjoe

Karya Christine Ay Tjoe, Silent Supper 04, nampak terdiri dari enam sosok tubuh dalam posisi duduk dengan arah pandang yang berbeda-beda. Letaknya yang berdekatan membentuk garis horizontal sejajar dengan bentuk media. Keenam sosok tubuh ini nampak memiliki bentuk yang berbeda-beda dengan posisi yang sama. Selain bentuk tersebut, terdapat pula dua buah persegi yang terletak di atas keenam sosok tersebut. Kedua persegi ini tidak datar namun meruang. Kedua persegi ini memiliki garis yang saling menghubungan dengan keenam sosok tersebut. Melihat pewarnannya, karya ini terlihat menggunakan warna merah, kuning, putih, biru, cokelat, hitam, dan sedikit percampuran dari warna-warna tersebut. Tidak hanya memberi warna pada bentuk-bentuk yang membentuk sesuatu. Warna-warna juga bertebaran menghiasi karya ini.

Silent Supper 04, jika diterjemahkan secara bebas berarti makan malam yang sunyi. Bisa makan malam yang sendirian, makan malam yang tidak membunyikan suara, atau bisa jadi makan malam di dalam hati hingga tidak ada seorangpun yang tahu bahwa ada proses makan yang sedang berlangsung. Ragamnya pemaknaan ini bisa semakin berkembang karena bahasa yang digunakan seniman yang tidak menggunakan tuturan tersebut -mengingat Christine Ay Tjoe adalah warga Indonesia yang menggunakan tuturan Bahasa Indonesia- membuat judul tersebut dapat dimaknai secara bebas sesuai dengan konteks yang berlaku bagi setiap pengamatnya.

Judul dalam karya ini nampak tidak sekadar mengucapkan kata “makan malam yang sunyi”, namun bisa diingat bahwa malam adalah waktu yang umumnya digunakan orang untuk tidur, dan kesunyian lebih mudah ditemukan pada suasana malam. Malam dan sunyi seakan menjadi dualitas yang saling mengimbangi maksud dan tujuan masing-masing kata. Pertemuan kata ini juga semakin menunjukkan bahwa acara makan di sini memang tidak diketahu oleh banyak orang.

Penggambaran obyek-obyek dalam karya ini tidak menampilkan bentuk mata, hidung, maupun mulut, yang semakin mewakili maksud betapa diamnya karya ini. Seniman seakan ingin menguatkan narasi yang dibawanya, bahwa tidak ada suara yang bisa didengar dari peristiwa makan ini. Akan tetapi, apabila melihat betapa garis-garis yang menghubungkan antara tubuh manusia dengan kotak, sepertinya seniman ingin juga menunjukkan bahwa peran bentuk ini cukup penting keberadannya untuk diperhatikan. Apakah makan malam yang sunyi itu merupakan peristiwa makan yang dialami tubuh melalui cairan infus? Bukankah manusia tidak perlu mengunyah sehingga tidak akan terdengar dan timbul suara? Karena, aliran cairan infus yang masuk ke tubuh manusia akan berjalan dengan perlahan, tenang, sunyi namun tubuh merasa kenyang karena mendapat sari makan yang dibutuhkan.

Keenam sosok tubuh ini tampaknya sekumpulan manusia, karena terlihat bentuk yang mirip kepala, badan, dan tangan yang mendekati bentuk tubuh manusia. Posisi tubuh dan arah pandang kepala menunjukkan keenam tubuh manusia ini sedang duduk dan berada dalam satu situasi yang sama. Tidak adanya bentuk mata, hidung, mulut tidak cukup membantu mengetahui kemana arah pandangan setiap obyek. Pewarnaan yang transparan dan jauh dari kepekatan percampuran warna, membuat warna merah dan putih menjadi kusam. Sementara kuning, oranye, biru, cokelat, dan hitam semakin menunjukkan pada suasana yang lesu, sendu, dan tidak bersemangat. Keberadaan dua buah persegi panjang yang memiliki garis penghubung dengan setiap bentuk tubuh manusia tersebut, menunjukkan adanya sesuatu yang sedang berusaha disalurkan oleh manusia kepada persegi atau persegi kepada manusia.

Apabila diamati lebih lanjut, kotak dan manusia dihubungkan oleh garis. Garis ini bisa jadi semacam proses pengiriman, penyaluran sesuatu kepada masing-masing obyek. Namun letak persegi yang berada di atas dinding, menguatkan pendapat bahwa yang menyalurkan sesuatu adalah kotak, dan manusia menerima isi dari kotak.

Berdasarkan deskripsi dan analisis formal di atas, pengkaji menginterpretasikan bahwa suasana yang dibawa seniman dalam karya ini merupakan suasana sendu, lesu, dan jauh dari kata semangat. Wajah kosong seperti enggan bercengkerama. Enggan menunjukkan kemana arah mata. Enggan menunjukkan kemana tubuh ingin bergerak. Pun, tubuh manusia tersebut juga tampak tidak mau banyak menjalin komunikasi dengan penonton, serta tampak lebih ingin dimengerti. Keenam tubuh ini sedang beraktivitas, aktivitas yang hanya melibatkan mereka semata. Tidak ingin melibatkan penonton tapi ingin mendapat perhatian dari penonton, ingin dipahami terkait dengan apa yang tengah mereka lakukan.

Selain itu, pemilihan warna sendu, seperti percampuran warna merah yang tidak pekat dan lebih mengarah pada wujud darah yang mencair. Latar belakang (background) berwarna putih yang mendekati warna perban untuk membalut luka. Sementara warna putih bersih yang dikenakan obyek (boneka)  pada ujung kanan, lebih dekat dengan warna baju perawat di rumah sakit. Pertemuan warna-warna tersebut yang dibingkai dalam bentuk tubuh yang lesu seakan menggambarkan pada suasana pesakitan di rumah sakit. Jika memang suasana yang dibangun seniman adalah suasana rumah sakit, mungkin akan menjadi tepat jika kedua kotak persegi yang memiliki slang penyalur ke tubuh manusia tersebut adalah cairan infus yang dipasang ke tubuh pasien dengan seorang suster yang merawatnya di ujung sebelah kanan.

Angka “04” pada judul yang mengikuti kata “Silent Supper” pada karya ini tidak menunjukkan jumlah manusia dalam karya ini. Angka ini bisa bermakna sebagai urutan karya yang dibuat dengan judul sama. Barangkali, ada empat orang yang ingin diarahkan oleh Ay Tjoe agar pengamatnya memfokuskan perhatian pada empat sosok yang memiliki peran penting dalam karya ini sebagai tokoh utama.

Apabila dihubungkan dengan kondisi tempat seniman hidup, pada saat itu Indonesia tengah menghadapi berbagai kasus korupsi lokal dan nasional. Acara “makan malam sunyi” ini bisa jadi merupakan kritik seniman terhadap kondisi pemerintahan Indonesia yang digrogoti oleh koruptor yang “memamah” kekayaan Indonesia, kekayaan rakyat secara diam-diam. Seniman memetaforakan kondisi mengeruk kekayaan rakyat ini seperti cairan infus yang masuk ke dalam tubuh secara pelan dan terjadi dalam diam. Koruptor dengan tenang, tanpa suara, tanpa banyak bicara “makan uang rakyat”, yang pada akhirnya terkuak juga. Seniman seakan mengajak para pengamatnya agar peka terhadap keadaan sekitar yang sewaktu-waktu menjadi ancaman bagi orang-orang yang korup.

Daftar Bacaan dan Sumber Gambar

Maryanto, Dwi M. 2011. Menempa Quanta Mengurai Seni. Yogyakarta: Penerbit ISI Yogyakarta.

Mutual Art. 2009. Christine Ay Tjoe: Silent Supper 04. http://www.mutualart.com. Diakses pada 4 April 2015.

Leave a Reply