A Copy of My Mind : Kapsul Waktu Indonesia dalam Realitas Urban

Realitas kehidupan masyarakat urban berusaha dikisahkan dalam film A Copy of My Mind yang disutradarai Joko Anwar. Masyarakat urban yang menjadi ikon Negara ini adalah contoh kehidupan di Jakarta. Sampel ini menjadi kuat untuk dikembangkan dalam cerita Sari dan Alek yang menjadi pemeran utama dalam film tersebut. Joko Anwar sebagai sutradara membangun karakter filmnya di kedua aktor ini. Realitas masyarakat urban kelas menengah bawah, tergambar jelas pada potongan gambar sederhana, yang tidak mengurangi kekuatan dari cerita film dan isu yang dibangun di dalamnya.

Keberadaan masyarakat kelas menengah bawah tak jauh dari sistem perekonomian yang dijalankan dalam pemerintahan. Kaitan ini sungguh sangat nyata jika ditarik pada sistem kapitalisme Negara yang cukup lama dibangun di Indonesia sejak awal tahun 70’an. Rezim pemerintahan sudah berganti tetapi sistem perekonomian kapitalisme tumbuh kembang semakin pesat, yang turut menimbulkan kemacetan lalu lintas pada jalanan di ibu kota. Kelas menengah bawah tak akan mungkin bisa memilih untuk keluar dari sistem yang sudah berjalan ini, dan mereka tetaplah menjadi pelaku sistem penggerak kapital perekonomian. Mereka tetap mengalami kesulitan hidup maskipun sudah berkerja sepanjang hari, dari subuh sampai petang. Usaha yang dilakukan untuk mencari dan berpindah kerjaan baru tidak bisa menjamin lepas dari ancaman bahaya sosial lainnya.

Kisah ini lah yang berusaha digambarkan Joko Anwar dalam A Copy of My Mind, khususnya gambaran peliknya kehidupan para penggerak perekonomian kapital dengan simbol salon perawatan kecantikan yang menjadi tempat kerja Sari. Identitas ini kian kompleks saat Sari, sebagai pekerja salon kecantikan, mencari hiburan sepulang kantor dengan membeli DVD bajakan dan menontonnya di kamar kos yang sempit dengan cita-citanya untuk membeli home theater agar dapat menonton dengan layar besar. Cita-citanya itu yang mendorong dirinya untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih besar sesuai dengan keahliannya, yaitu bidang perawatan kecantikan wajah. Kegemaran Sari untuk menonton film dari DVD bajakan mempertemukannya dengan Alek, seorang penerjemah teks DVD bajakan. Hal ini menjelaskan bahwa mereka berada dalam golongan masyarakat menengah bawah. Joko Anwar membuat film ini dengan mencoba menjelaskan identitas pemeran dari kesehariannya yang sederhana, tapi tak lagi sederhana saat masuk pada lingkaran politik partai. Hidup memang bisa jadi tidak sesederhana bagi kisah cinta pemuda pemudi yang memadu kasih. Maka dari itu, porsi kerumitan kisah cinta pada film ini tidak dijadikan rumit oleh sutradara film.

Identitas sosial yang digambarkan pada film A Copy of My Mind menjadi sangat dekat dengan para penikmatnya, karena dibangun dari sudut pandang posisi kedudukan mayoritas. Kedudukan masyoritas ini dibenturkan dengan posisi dominan penggerak pemerintahan sebagai pemegang nasib golongan bawah. Film ini mengulas dan menceritakan kembali peristiwa politik yang terjadi di Indonesia secara aktual, dengan penggambaran Pemilihan Umum yang baru saja berlangsung. Bisa dikatakan bahwa gambaran demokrasi di Indonesia kurang lebih seperti dalam film ini. Indonesia memiliki sejarah pelanggaran berat HAM yang belum selesai dan permasalahan itu pada masa Orde Baru terulang sebagai peristiwa pelanggaran berat HAM lagi, dan masih banyak beberapa kasus yang sama pada lingkup daerah. Hal ini menjadi permasalahan besar yang belum selesai, dan akan terus berlanjut dengan kasus lainnya yang mulai keluar ke permukaan, seperti politik uang dan korupsi. Politik uang memiliki tujuan utama kekuasaan, dan kecenderungan utama kekuasaan adalah memperkokoh dominasi yang membutuhkan fasilitas penopang utama yakni ekonomi. Hal ini dikembangbiakan di lahan basah perpolitikan Indonesia. Korupsi bukan hal yang remeh, karena ia tidaklah bisa dilepaskan dari penyalahgunaan kekuasaan. Korupsi jelas akan terus berlangsung jika tatanan politik lemah dalam mekanisme kontrol dan mengabaikan transparansi. Begitulah Indonesia, dan jika merujuk pada tulisan Romo Haryatmoko, “Ketika kekerasan di Indonesia mulai mereda, yang mencuat ke permukaan adalah politik uang dan korupsi”[1]. Kalimat itu tidaklah berlaku di dunia politik di Indonesia, karena ketika politik uang dan korupsi merajarela dengan asumsi dominasi kekuasaan maka kekerasan pun menjadi jalan untuk menempuh cita-cita yang dibangun. Gambaran itu terletak pada scene kampanye calon Presiden pada Pemilihan Umum tahun 2014 dan pada rekaman video yang tersimpan dalam DVD curian Sari milik Ibu Mirna dari Lapas Kelas I, tetang tawar menawar para elit politik untuk posisi bagus di pemerintahan. Partai politik berlomba-lomba dalam kampanye dan biaya yang dikeluarkan semakin banyak untuk memenangkan wakil mereka di legislatif, serta ambisi untuk menduduki jabatan elit politik. Obsesi itu dibangun dalam persoalan yang tak kunjung selesai, sehingga menurut Joko Anwar, sutradara dari film ini saat world premier di Venice Film Festival 2015, film ini seperti kapsul waktu yang menggambarkan keadaan Indonesia.

Kisah ini juga masih memakai kisah klasik tentang Adam dan Hawa dalam problem modern. Kisah yang tak urung selesai diceritakan di masa sekarang, dan tetap menyudutkan perempuan sebagai pembawa sial. Hal ini ditunjukkan dalam shot, ketika Sari melakukan perawatan kecantikan untuk ibu Mirna. Ibu Mirna merupakan tahanan eksklusif di penjara kelas I untuk kasus korupsi kelas kakap. Fasilitas yang ada di kamar ibu Mirna sangatlah lengkap, sudah seperti hotel. Sari berhasil mencuri keping DVD dari kamar penjara kelas I tersebut, dan inilah yang menjadi awal masalah yang dibangun dalam film ini. Sampai akhirnya Alek diculik untuk memberi tahu keberadaan Sari, dan berujung lenyapnya nyawa Alek. Kisah cinta ini memang sungguh pahit dialami oleh pasangan Sari dan Alek yang baru dibina.

[1] Haryatmoko, Dominasi Penuh Muslihat, (Gramedia:Jakarta, 2010), hlm. 65,

Leave a Reply