Kereta Api itu Berjalan Lagi

Kereta api itu berjalan lagi. Dengan diiringi suara peluit dari petugas stasiun. Uap dari cerobong kereta api seakan menjadi pertanda bahwa kereta itu pasti akan kembali dengan harapan-harapan dari penumpang yang baru. Suara sirine stasiun yang nyaring membawa kenanganku akan tempat yang kurindukan. Terlihat suasana hiruk-pikuk pedagang asongan yang menjajakan makanan dan minuman. Mereka membawa barang jualan dengan keringat untuk keluarga di rumah. Suara jam berdentang menunjukkan 60 menit telah berlalu. Orang-orang masih terlihat antri di sudut loket yang belum lama dibuka. Orang-orang itu pasti akan naik kereta dengan membawa harapan. Dan kereta yang sedang berjalan itu menjadi saksi dari harapanku yang terbawa pergi entah kemana dan tak kunjung kembali. Kereta api itu telah membawa ibu pergi.

Aku adalah seorang lulusan SMK teknik elektro. Setiap hari aku bergelut dengan barang-barang elektronik yang begitu rumit. Tetapi aku mempunyai barang berharga yang selalu melekat di tanganku yaitu jam tangan yang penuh kenangan. Ia merekam kenangan pahit dan manis bahkan selalu mengingatkanku akan memori masa lalu.

Tanggal 22 Desember 1994 adalah pertama kali aku memberikan hadiah untuk ibu di hari ulang tahunnya yang begitu pas dengan tanggal peringatan hari ibu. Hadiah yang sederhana dan dibalas dengan tangisan bahagia oleh ibu. Beberapa bunga kukumpulkan dan kuikat untuk mempersembahkan hadiah yang penuh harapan ini.

Tiga kali sudah ibu pergi dari rumah demi mencari pekerjaan di kota. Yang pertama ibu bekerja sebagai karyawan di rumah makan. Beliau pulang tidak tentu. Kadang sebulan sekali, sebulan dua kali bahkan pernah sebulan tidak pulang ke rumah. Yang kedua kudengar kabar ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji yang lumayan besar sehingga pekerjaan pertamanya dia tinggal. Hampir setahun dia bekerja dan berhenti karena harus mengurus aku yang masih kecil dikarenakan nenekku yang mengasuhku selama ibu bekerja sudah meninggal dunia.

Tanggal 15 Januari 2005. Setelah aku sudah besar beliau pergi meninggalkan rumah karena harus bekerja lagi. Kali ini aku tak tahu beliau pergi ke mana dan kapan beliau kembali. Beliau hanya berpesan ketika mau berangkat “Waktu tidak dapat berputar kembali. Tunjukkan kepada ibu kamu bisa menjadi yang ibu harapkan.”. Di stasiun Jember ini ibu berangkat dengan kereta api yang melaju dengan secuil harapanku akan kepulangannya untuk kembali. Untuk kesekian kalinya aku merelakan kereta api itu berjalan membawa ibu.

Sudah hampir dua tahun ibu belum juga kembali. Aku memutuskan untuk pergi ke Jakarta tempat terakhir ibu memberi kabar tentang keberadaannya. Tapi yang kuperoleh nihil. Benda yang kupunya mengenai ibu hanyalah fotonya bersamaku dengan latar belakang halaman belakang rumah. Kutelusuri kota Jakarta selama beberapa tahun. Aku juga bekerja di Jakarta sebagai tukang servis barang-barang elektronik. Aku berada di kota ini dengan harapan bisa kembali bertemu dengan ibu. Aku merasakan betapa kerasnya bekerja di kota besar. Persaingan tidak sehat menjadi sarapan pagi ku. Aksi kejahatan adalah tontonan yang tak jarang kutemui. Aksi demonstrasi yang berakhir bentrokan dan kerusuhan juga menjadi penyakit mata yang sering kulihat. Kalau tidak curang maka kau akan dicurangi. Harus membunuh perasaan dari fitnahan sana-sini. Ibu mampukah kau bertahan di ibukota yang kejam ini?

28 Februari 2009. Dua tahun aku bekerja di ibukota Jakarta dan masih belum bertemu kembali dengan ibu. Apa aku harus pulang ke rumah? Barangkali ibu sudah menungguku di sana. Mungkin ibu sudah pulang kembali ke rumah karena sudah rindu dengan aku anak semata wayangnya. Tapi mengapa dia tidak mengabari aku dulu? Apa mungkin dia sibuk atau tidak tahu bagaimana menghubungiku karena aku sekarang berada di Jakarta? Bagaimana ini, haruskah kuputuskan untuk pulang ke rumah atau aku terus mencari keberadaan ibu di Jakarta? Aku ingin kembali pada waktu di mana ibu pergi untuk terakhir kalinya yaitu 15 Januari 2005. Aku tidak akan membiarkan lagi kereta api itu mengambil ibu dariku.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali pulang ke rumah. Aku merindukan suasana ketika ibu pamit pergi. Sesampainya di rumah tanggal di kalender kuubah menjadi tanggal 15 Januari 2005 tepat sekali ketika ibu akan pergi untuk yang terakhir kalinya. Jamnya pun aku masih ingat jam 4 sore. Aku tiba dirumah dengan suasana yang sama pula ketika aku hendak mengantar ibu ke stasiun. Keadaan di rumah sedikit berubah karena banyak debu sejak kutinggal pergi ke Jakarta. Kubersihkan semua perabot rumah sampai benar-benar bersih. Sehingga suasana di rumah persis dengan suasana rumah ketika ibu akan pergi dari rumah.

Aku juga membuat suasana rumah sama pada waktu ketika aku memberi hadiah pertama pada hari ulang tahun ibu, tanggal 22 Desember 1994. Aku juga masih ingat pukul berapa aku memberikan hadiah itu, pukul 10 pagi setelah aku pulang sekolah. Bunga kuatur sedemikian rupa supaya ada di vas bunga dan terletak pas di tengah-tengah meja. Pada waktu itu aku menyusul ibu di dapur dan kuajak ke ruang tamu untuk melihat hadiah bunga dariku. Foto aku dan ibu masih terpampang dengan jelas. Ibu  memelukku di tengah, tersenyum penuh kebahagiaan. Tapi waktu telah memisahkan kami berdua. Sepeda onthel yang kubawa ke sekolah dulu juga telah kubersihkan sehingga tampak seperti dulu lagi. Kalender juga telah kuganti dengan yang lama. Tak lupa jam tangan kesayanganku, yang telah merekam semua perjalanan hidupku dengan ibu, telah kutepatkan pukul 4, waktu ketika aku melihat langsung wajah ibu untuk yang terakhir kali.

Semua suasana di rumah bisa dengan mudah kuganti. Perabot yang kotor pun dengan mudah juga kubersihkan. Kalender dengan mudah juga bisa dicetak. Foto keluarga yang sebagian rusak pun dapat diganti dengan yang baru. Apalagi jam di tanganku dengan mudahnya kuatur sesuka hatiku. Cat rumah yang sudah terkelupas sudah diganti dengan warna yang dulu. Sepeda onthelku bisa diservis dan dipermak menjadi sepedaku yang dulu. Aku juga sudah bersiap hendak menghentikan laju kereta api yang telah membawa ibuku pergi. Jam tanganku pun sudah berhenti berdetak, tepat menunjukkan pukul 4.

Tak sia-sia usahaku, aku berhasil menghentikan laju kereta api. Kuambil alih kemudi kereta itu lalu kuubah menjadi kereta kencana untuk menyusul ibu yang terlebih dulu meninggalkan dunia ini.